oleh

Viral, 2 Pelajar Di Bondowoso Alami Gangguan Jiwa Akibat Kecanduan Smartphone

recode.ID – Dua orang pelajar asal kabupaten Bondowoso, Jawa Timur harus menjalani perawatan secara intensif di Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa timur setalah di vonis oleh dokter keduanya mengalami gangguan kejiawaan akut. Setelah di telususi, penyebab kedua remaja yang masih berusia 17 tahun dan H 15 tahun danĀ  berstatus pelajar dari sebuah SMP dan SMA di yang ada di Bondowoso ini cukup mencengangkan. Keduanya di vonis mengalami gangguan kejiwaan akibat kecanduan smartphone.

dr Dewi Prisca Sembiring, Sp.Kj, dokter spesialis jiwa RSUD Koesnadi membenarkan jika rumah sakit tempat ia berdinas memang sedang merawat dua pasian yang alami ganguan kajiwaan akibat kecanduan smartphone. “Kedua pasien itu terdiri atas satu siswa SMP dan satunya siswa SMA,” Jelas dr. Dewi seperti di lansir dari Antara.


Dalam keterangannya pihak RSUD Koesnadi menyebut jika kedua pasian berinisial A (17th) dan H (15th) sering berperilaku yang tidak wajar ketika di minta untuk tidak bermain smartphone. Bahkan salah satu di antara mereka kerap membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sudah sangat ingin menggunakan gadget namun di larang oleh kedua orang tuanya.

Masalah gangguan kejiwaan yang di alamai oleh kedua pelajar ini mungkin belum masuk dalam kategori “gila”, namun mereka memiliki tekanan atau depresi yang cukup beratĀ  yang harus segera memerlukan tindakan perawatan.

Oleh para dokter yang menanganginya, kedua pelajar ini sempat dilakukan sebuah tes kejiwaan yang di beri nama psikotest. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana salah satu remaja tersebut memberikan jawaban yang mengidentifikasikan dirinya sebagai pembunuh atau psikopat.

Sementara itu, dalam test yang di lakukan ketika di tanya siapa orang yang paling dibencinya jawabannya cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Remaja tersebut menjawab orang yang paling di bencinya adalah kedua orang tuanya. Mereka mengaagap orang tuanya yang sebagai penghalang antara dirinya dan gadget.

“Bahkan si anak sudah pada taraf tidak mau sekolah. Akhirnya dibawa ke poli jiwa. Kami menemukan bahwa awalnya anak menjadi sangat dekat dengan gadget dan laptop karena tugas-tugas sekolah. Waktu itu hampir semua tugas-tugas sekolah menggunakan teknologi ini, sehingga si anak kemana-mana membawa laptop,” ungkap dr Dewi.

Berkaca dengan kejadian yang di alami oleh kedua remaja yang menderita gangguan kejiawaan akibat kecanduan smartphone, menjadi pengingat untuk diri kita terutama orang tua untuk lebih mengawasi penggunaan smartphone pada putra putri mereka. Peran orang tua dan keluarga sangat di butuhkan untuk menghindarkan anak dari kecanduan ponsel pintar.

“Isilah keinginan anak-anak itu dengan hati kita bukan dengan gadget. Kita harus isi hati anak-anak itu dengan yang nyata, yaitu kita sebagai orang tua, bukan dengan yang tidak nyata di gadget,” kata dr Dewi menyarankan.

(aufa/223)

Silahkan Download Aplikasi Baca Berita recodeApps Melalui Google Play Store Untuk Akses Berita Lebih Cepat Di Smartphone Android Anda.


Topik Menarik Lainnya